Pessel Kembali Dihantam Banjir. Ratusan Rumah Terendam, Jalinsum Macet 9 Jam

Banjir-- Beginilah genangan air yang mengakibatkan macetnya transportasi di Kecamatan Koto XI Tarusan. Foto Diky Lesmana.

Banjir-- Beginilah genangan air yang mengakibatkan macetnya transportasi di Kecamatan Koto XI Tarusan. Foto Diky Lesmana.

PESSEL– Pessel kembali dihantam banjir. Sekitar, 690 unit rumah serta puluhan hektare lahan pertanian di Kecamatan Koto XI Tarusan, terendam banjir setinggi 1 hingga 1,5 meter, menyusul turunya hujan deras sepanjang,  Rabu (24/12) hingga dini hari kemarin. Selain itu, satu unit rumah warga di Baruang-Baruang Balantai rusak berat dihantam longsor. Tak ada korban jiwa dalam peristiwa pada akhir tahun 2008 ini.

Informasi yang dihimpun POSMETRO di lapangan, selain merendam rumah dan lahan pertanian, banjir juga merendam Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Padang-Bengkulu putus total selama 9 jam. Kemudian, satu unit rumah milik Masni (39) warga Kampuang Rajo Agam, Nagari Baruang-Baruang Balantai, Koto XI Tarusan nyaris hancur dihantam tanah longsor.

Daerah yang terparah dilanda banjir tersebut yakni, Nagari Ampang Pulai 285 unit rumah, Duku 105 unit rumah, Batu Ampa 103 unit rumah, Nanggalo 116 unit rumah, Kapuah 56 unit rumah dan baruang-baruang Balantai 25 unit rumah.

“Banjir diawali dari luapan Sungai Batang Tarusan pada Rabu (24/12) sekitar pukul 21.00 WIB. Karena Sungai Batang Tarusan tersebut tidak sanggup lagi menampung tingginya debit air yang kian meningkat. Sehingga, merendam hampir seluruh kecamatan ini” ujar Camat Koto XI Tarusan Zulkifli kepada koran ini, Kamis (25/12) kemarin.

Menurutnya, banjir bukan saja menggenangi rumah masyarakat dan areal pertanian setinggi 1 meter. Bahkan, merendam jalan lintas Sumatera setinggi hampir 1,5 meter. Sehingga, jalan yang menghubungkan Padang-Painan tersebut terputus dari pukul 01.00 WIB dini hari hingga Kamis (25/12) sekitar pukul  10.00 WIB, atau sekitar 9 jam. Membuat antrean kendaraan mencapai 3 km dari kedua arah.

Beruntung ulas Zulkifli, dari peristiwa ini tidak menimbulkan korban jiwa. Hanya menimbulkan kerugian materi saja. Namun, satu unit rumah di Kampuang Rajo Agam tertimbun tanah longsor sehingga rumah tersebut mengalami rusak berat.

“Banjir dinyatakan surut Kamis pukul 10.00 WIB. Dan sekarang seluruh akses transportasi telah mulai normal kembali. Kendati sempat mengungsi di rumah kerabat dan masjid, masyarakat telah kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan sisa-sisa sampah dan material yang terbawa arus banjir,” katanya.

Dikatakan, Dinas Sosial Pessel yang datang ke lokasi kejadian memberikan bantuan berupa 76 paket Sembako yang berisikan 5 bungkus mie instan serta 5 kaleng sarden, yang akan dibagikan ke masyarakat. Namun, baru disalurkan sebanyak 15 paket Sembako ke masyarakat yang dianggap lokasi terparah dan 61 paket masih dititipkan di Kantor Camat. Karena, bantuan tersebut tidak mencukupi kebutuhan masyarakat yang terkena bencana.

“Sekarang kita berharap akan segera di kucurkan bantuan pangan dari Pemkab Pessel. Karena masyarakat sangat membutuhkannya. Karena, bantuan yang ada tidak mencukupi kebutuhan masyarakat,” harapnya.

Sementara itu, Masni korban rumah yang tertimbun tanah longsor tersebut sekarang hanya tertunduk lemah. Karena, rumah yang biasa dihuninya dengan 8 orang anaknya itu sudah tidak bisa dihuni lagi. Seisi rumah tersebut telah dipenuhi dengan material tanah dan batu yang terbawa lonsoran dari bukit belakang rumahnya itu. Sementara seluruh dinding belakang beserta isi perabotan rumahnya jebol dihantam longsoran tanah.

Menurutnya, kejadian itu berawal Rabu (24/12) sekitar pukul 20.00 WIB. dirinya curiga pada awalnya dinding rumah semi permanent miliknya itu mengeluarkan air serta mengeluarkan bunyi aneh. Tanpa pikir panjang dirinya langsung keluar rumah beserta ke delapan anaknya.

“Ambo alah curiga juo. Karano, dari dindiang rumah kalua aia jo bunyi nan aneh. Taruih ambo imbau anak-anak ko untuak sagiro kalua dari rumah dan manompang di rumah tetangga,” ujar Masni yang telah ditinggal mati suaminya ini sekitar 1 tahun yang lalu.

Dikatakannya, selang beberapa waktu terdengar suara gemuruh dari belakang rumah dan kemudian diikuti oleh tumpukan tanah dan batu yang menghantam dinding belakang rumahnya. Sehingga rumah beserta perabotannya hancur tertimbun longsoran itu. “Sekarang saya hanya bisa berharap kepada siapa saja yang ingin membantu saya. Karena saya sekarang tidak tahu lagi mau kemana akan mengadukan nasib ini. Hidup serba kekurangan untuk menghidupi ke delapan anak sudah susah, sedangkan suami sudah tiada,” ucapnya lirih.

Hingga pukul 17.30 WIB belum satupun bantuan yang diterima ibu malang ini. Sekarang dia masih menunggu uluran tangan para dermawan yang ingin sedikit berbagi dengan kesedihan yang dialaminya. (*)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s